Yusril Samalanga: Shalat -->



Janggut merupakan salah satu ciri khas dari seorang pria. Memanjangkan janggut selain dari merupakan sunnah, tentunya juga dapat menambah rasa kewibawaan dan ketampanan bagi seorang pria. Kalau kita ingin mendapatkan pahala sunnah dengan cara memanjangkan janggut, tentunya kita harus mengetahui hal-hal yang sunnah dan jangan sampai deh melakukan hal-hal yang dilarang ini !

Menurut imam Al-Ghazali dalam Ihya-ulumuddin, ada sembilan hal yang makruh dilakukan pada janggut, yaitu :

1.  Menghitamkan janggut yang sudah putih karena menyerupai bagi orang yang muda.

Seperti sabda Rasulullah saw “sebaik-baik orang yang muda itu ialah orang yang menyerupai dengan orang yang tua, dan sejahat-jahat orang yang tua itu ialah ia yang menyerupai dengan orang yang muda”.

Maknanya menurut imam Al-Ghazali dari hadist tersebut ialah menyerupai orang yang muda kepada yang tua adalah serupa pada kelakuaan orang yang tua yang berakal, bukan serupa kepada yang tua untuk ikut memutihkan janggut. Janggut orang yang muda tetap seperti mudanya, tidak untuk diubah menjadi putih karena mengikuti orang yang tua.

Sabda Rasulullah saw “menghitamkan akan janggut yang putih itu yaitu inai ahli neraka”.

Dan dalam salah satu riwayat dikatakan “berinai janggut yang dihitamkan itu yaitu seperti inai orang kafir” dan kerena inilah menurut setengah ulama, “haram menghitamkan janggut yang putih itu melainkan karena perang sabilillah”.

2. Makruh memutihkan janggut yang hitam dengan belerang supaya kelihatan tua supaya takzim oleh orang kepadanya, maka yang seperti ini dilarang oleh syara’.

3. Makruh mencabut uban daripada janggut.

Seperti sabda Rasulullah saw “uban itu yaitu cahaya mukmin dan uban itu Nur Allah dan barang siapa benci daripada uban itu niscaya benci akan Nur/cahaya”.

4. Makruh mencabut seluruh janggut atau setengahnya.

Telah berkata sayyidina Umar Bin Khattab r.a “bahwa negeri madinah itu jadi saksi pada hari kiamat akan seorang yang mencabut akan janggutnya”.

5. Makruh mengurangi atau menghilangkan janggut melebihi daripada adat/kebiasaan yang pertengahan dan makruh pula melebihkannya daripada adat/kebiasaan yang pertengahan pula.

Seperti sabda Rasulullah saw “sebaik-baik pekerjaan itu pertengahannya”.

STOP, Ternyata Makruh Melakukan Ini Pada Janggut




Sunnah membersihkan diri memotong kuku-kuku ataupun bulu-bulu pada tiga hari tertentu, yaitu pada hari senin,kamis dan jum’at. Pada hari senin dan kamis sunahnya yaitu pada sore hari dan pada hari jum’at sunnahnya yaitu pada pagi hari.

Kuku dan bulu ataupun rambut merupakan suatu perkara yang harus kita jaga kerbersihannya dari pada tubuh kita. Karena apabila kita suka memelihara kuku, bulu atau rambut, namun kebersihannya kurang dijaga tentunya ini akan kelihatan jorok. Apalagi dengan kuku-kuku yang panjang, namun kotor, tentunya selain jorok ini juga merupakan tempat bersarangnya si iblis.

Dalam hadist Rasulullah saw mengatakan kepada Abi Hurairah :

يا أبا هريرة قلم أظفارك فان الشيطان يقعد على ماطال منها

“wahai Abi Hurairah! Potong olehmu akan kuku-kukumu maka karena syaitan itu duduk diatas yang panjang daripadanya”.

Bagi bulu ketiak dan kemaluan, ini juga harus sering-sering kita jaga kebersihannya.

Seperti sebuah hadist :

وقت لنا في قص الشارب و تقليم الأ ظفار ونتف الابط وحلق العانة أن لانترك أكثر من أر بعين ليلة

“Rasulullah saw memberikan waktu kepada kami untuk memotong kumis,kuku,mencabuti bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak dibiarka lebih dari empat puluh hari”.

Sedangkan rambut, ini bisa saja menjadi sunnah dengan memotongnya ataupun tidak. Tapi, tentu ada alasannya untuk kita memanjangkannya. Bukan untuk fashion atau gaya-gayaan dimuka umum atau bukan pula ingin menjadi seperti wanita, tetapi melainkan karena sunnahnya.

Seperti sebuah riwayat dari Anas Bin Malik r.a :

كان شعر رسول الله صلى الله عليه وسلم ﺈلى نصف أذنيه

“Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya”.

Nah, sekarang mari kita kembali ke point utamanya Bagaimana cara sunnah membersihkan kuku,bulu dan rambut pada diri kita ?

Menurut imam Al-Ghazali didalam kitabnya Ihya-ulumuddin, ada delapan macam yang harus kita jaga kebersihannya dari pada tubuh kita, yaitu :

1. Rambut

Tiada mengapa apabila ingin memotong rambut bagi kita yang tidak ingin memanjangkannya dan tiada mengapa pula apabila kita ingin memanjangkannya karena ingin menyisirnya dan meminyakinya. Tapi tiada sunnah untuk mencukur rambut itu melainkan pada saat haji,umrah dan pada kanak-kanak yang baru lahir pada hari yang ketujuh atau lainnya.

Dan makruh apabila kita hanya menyukur setengah daripada rambut dan setengahnya lagi tiada kita potong. Misal seperti kebanyakan model-model rambut masa kini yang banyak terlihat, disisi samping kiri dan kanannya sudah dicukur dengan tipis, namun dari sisi atasnya masih banyak bertumpuk. Bahkan kadang ada juga yang terlihat seperti layanknya biji mangga yang habis dihisap.

2. Kumis dan janggut

Dan sunnah mengendam kumis dan memanjangkan janggut, namun dengan diratakan atau dirapikan dengan gunting.

Dan kata setengah ulama, makruh apabila kita menyukur janggut dan tiada mengapa apabila kita ingin memanjangkan pada kedua ujung kumis seperti yang diperbuat oleh sayyidina Umar r.a.

3. Bulu ketiak

Sunnah mencabut bulu-bulu pada ketiak setiap empat puluh hari sekali, ataupun juga bisa dengan di cukur apabila kita tidak sering membersihkannya dengan cara mencabut, tentu akan terasa sakit, maka boleh dilakukan dengan mencukurnya atau dengan memakai kapur agar bulu-bulunya rontok dan sebagainya, dan jangan pula kita melewati daripada empat puluh hari untuk membersihkannya.

4. Bulu kemaluan

Sunnah membersihkan bulu kemaluan dengan cara mencukur atau dengan kapur dan sebagainya bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan sunnah untuk mencabutnya. Dan jangan pula melewati daripada empat puluh hari.

5. Kuku tangan dan kaki

Sunnah memotong kuku-kuku itu, karena sabda Rasulullah saw kepada Abi Hurairah “wahai Abi Hurairah! Potong olehmu akan kuku-kukumu maka karena syaitan itu duduk diatas yang panjang daripadanya”.

Dan kata imam Al-Ghazali dalam Ihya-ulumuddin “dan jikalau ada dibawah kuku-kuku itu kotoran/daki namun tiada menghalangi akan sah air sembahyang karena bahwa yang demikian itu tiada mencegahkan akan sampai air kepadanya, maka yang demikian dimudahkan didalamnya oleh syara’ karena hajat. Karena Rasulullah saw menyuruh memotong akan kuku-kuku, namun menegur ia ketika melihat ada kotoran dibawah kuku-kukunya orang arab, namun tiada menyuruh ia untuk mengulang akan mengambil air sembahyang mereka itu”.   

Cara memotong kuku tangan, maka dimulai daripada jari telunjuk tangan kanan, kemudia jari tengah, jari manis, jari kelingking dan dilanjutkan dengan jari kelingking tangan kiri, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, ibu jari dan berakhir pada ibu jari yang kanan.

Cara memotong kuku kaki, maka dimulai daripada jari kelingking kaki kanan, dan berlanjut sampai akhirnya pada jari kelingking yang kiri dengan tertib.

6. Pusat

Maka dipotong akannya tali pusat pada ketika melahirkan.

7. Khitan

Dan seyogyanya bahwa ditakhirkan khitanan itu daripada hari yang ketujuh setelah melahirkan hingga masih tertinggal gigi kanak-kanak daripadanya. 

Kerena seperti kata imam Al-Ghazali “mentakhirkan khitan hingga tinggal gigi kanan-kanak itu terlebih kasih kepada aku dan terlebih jauh daripada bahaya”.

Dan sabda Rasullullah saw “bahwasanya khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kemulian bagi perempuan”.

Sedangkan hukum khitan itu, wajib atas orang yang telah berakal baligh baik laki-laki maupun perempuan pada mazhab kita imam Syafi’i r.a.  

8. Janggut

Kata nakh’i/ “ujub aku bagi seorang laki-laki yang berakal yang panjang janggutnya betapa tiada mengambil ia daripada janggutnya itu maka menjadikan akandia antara dua dagunya maka karena yang pertengahan dalam dalam tiap-tiap suatu itu terlebih baik”.

Maknanya ia heran kenapa ada seorang laki-laki yang waras namun sangat panjang janggutnya, kenapa tidak ia memotong akan janggutnya itu hingga tinggalah setengahnya yaitu antara dagu, kerena yang pertengahan itu lebih baik.

Ternyata Begini Cara Sunnah Memotong Kuku, Bulu Atau Rambut

SHALAT SUNNAT TASBIH

اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ قَلَى لِلْعَبَّاسِ بِنْ عَبْدِالْمُطَّلِبِ : يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ اَلَآ أُعْطِيْكَ اَلَآ اَمْنَحُكَ اَلَآ اُخْبِرُكَ اَلَآ اَفْعَلُ لَكَ : عَشْرَ حِصَالٍ اِذَا اَنْتَ فَعَلْتَ ذٰ لِكَ غَفَرَاللهُ لَكَ ذَنْبِكَ اَوَّلَهُ وَاٰخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْلَهُ وَصَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَا نِيَّتَهُ عَشْرَ حِصَالٍ : اَنْ تُصَلِّيَ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكَعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً . فَاِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى اَوَّلِى رَكْعَةٍ وَاَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ : سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وِلِآ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ . خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَاَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّ كُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَاَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْ سَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذٰ لِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذٰلِكَ فِى اَرْبَعِ رَكَعَاتِ اِنِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمِ مَرَّةً فَافْعَلْ فَاِنْ لَـمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً فَاِنْ لَـمْ تَفْعَلْ فَفِى شَهْرٍ مَرَّةً فَاِنْ لَـمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَاِنْ لَـمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمْرِكَ مَرَّةً .
Artinya :
        “Rasulullah saw. Berkata kepada Abbas Bin Abdul Muth-thalib: hai Abbas, hai pamanku, sukakah engkau kuberi sesuatu, sukakah engkau  kuberi hadiah, sukakah engkau kuberi petunjuk baik. Sepuluh perkara jika engkau kerjakan niscaya Allah mengampunkan dosa-dosamu? Dosa yang pertama kali dan yang terakhir, dan yang lama dan yang baru, yang engkau lalaikan dan yang engkau sengaja, yang kecil dan yang besar, yang dirahasiakan atau yang dilanggar dengan terang-terangan. Sepuluh perkara yaitu sembahyang empat rakaat. Dalam rakaat pertama setelah engkau membaca fatihah dan surah dan masih dalam keadaan berdiri, enkau membaca: SUBHAANALLAAHI WALHAMDU LILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR (Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar), lima belas kali. Kemudian ruku’ dan membaca tasbih tersebut sepuluh kali. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) dan membaca tasbih tersebut sepuluh kali. Kemudian turun untuk sujud dan membaca tasbih tersebut sepuluh kali. Lalu mengangkat kepala untuk  duduk (duduk antara dua sujud) dan membaca tasbih tersebut sepeuluh kali. Lalu sujud lagi yang kedua dan membaca tasbih tersebut sepuluh kali. Kemudian bangkit, sebelum berdiri terlebih dahulu duduk istirahat dan membaca tasbih tersebut sepuluh kali. Maka tasbih semuanya tujuh puluh lima kali, tiap satu rakaat. Dan ini engkau lakukan hingga empat rakaat. Kalau kiranya mampu lakukanlah tiap hari sekali. Jika tidak mampu, lakukanlah tiap minggu sekali. Kalau tidak mampu, lakukanlah tiap bulan sekali. Dan kalau tidak mampu, lakukanlah tiap tahun sekali. Dan kalau kiranya tidak mungkin, maka lakukanlah seumur hidup sekali. (Al-Hakim, Al-Baihaqi).
Shalat ini disebut shalat sunnat tasbih, karena didalamnya terdapat atau dibacakan tasbih yang pada tiap-tiap rakaat sebanyak 75 kali tasbih sampai dengan empat rakaat maka menjadi 300 kali tasbih. Shalat sunnat tasbih dapat dikerjakan siang hari atau malam hari, maka apabila :

1.      Shalat sunnat tasbih dikerjakan pada waktu malam hari, empat rakaat dibagi menjadi dua kali salam. Artinya dikerjakan dengan dua-dua rakaat pada waktu malam.
2.      Apabila dikerjakan siang hari, maka empat rakaat dikerjakan dengan sekali salam.



CARA MENGERJAKAN SHALAT SUNNAT TASBIH
1.      Berdiri Menghadap kekiblat, lalu mengucapkan lafadh niat :
Lafadh niat shalat sunnat tasbih malam

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكَعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى. اَللهُ اَكْبَرُ.
“USHALLII SUNNATAT-TASBIIHI RAK’ATAYNI LILLAAHI TA’AALA. ALLAAHU AKBAR”
“Sengaja aku mengerjakan shalat sunnat tasbih dua rakaat, karena Allah taala. Allahu Akbar”
       
  Lafadh niat shalat sunnat tasbih siang

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالٰى. اَللهُ اَكْبَرُ.
“USHALLII SUNNATAT-TASBIIHI ARBA’A RAKA’ATIN LILLAAHI TA’AALA. ALLAAHU AKBAR”
“Sengaja aku mengerjakan shalat sunnat tasbih empat rakaat, karena Allah taala. Allahu Akbar”
   Tasbih dengan mengucapkan :

SUBHAANALLAAHI WALHAMDU LILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR
(Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)

   Dan pada setiap kali terakhir tasbih (ke-15 atau 10) ditambahkan :

WA LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL-‘ADHIIM
(Dan tidak ada daya kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
2.      Setelah membaca Al-Fatihah dan surah sebanyak 15 kali tasbih.
3.      Setelah membaca tasbih ruku’ sebanyak 10 kali tasbih.
4.      Setelah membaca doa dalam i’tidal sebanyak 10 kali tasbih.
5.      Setelah membaca tasbih pada sujud yang pertama sebanyak 10 kali tasbih.
6.      Setelah membaca doa dalam duduk antara dua sujud sebanyak 10 kali tasbih.
7.      Setelah membaca tasbih pada sujud yang kedua sebanyak 10 kali tasbih.
8.      Sebelum berdiri, duduk istirahat dan membaca sebanyak 10 kali tasbih.
9.  Setelah membaca doa dan salawat dalam tahyat akhir, kemudian membaca sebanyak 10 kali tasbih.
CARA KE DUA


1.      Niat, seperti pada cara yang pertama.


2.      Sebelum membaca Al-Fatihah sebanyak 15 kali tasbih.
3.      Setelah membaca Surah/ayat lainnya sebanyak 10 kali tasbih
4.      Setelah membaca tasbih ruku’ sebanyak 10 kali tasbih.
5.      Setelah membaca doa dalam i’tidal sebanyak 10 kali tasbih.
6.      Setelah membaca tasbih pada sujud yang pertama sebanyak 10 kali tasbih.
7.      Setelah membaca doa dalam duduk antara dua sujud sebanyak 10 kali tasbih.
8.      Setelah membaca tasbih pada sujud yang kedua sebanyak 10 kali tasbih.

Pada tata cara yang kedua bacaan tasbih pada saat duduk istirahat dan tahyat akhir tidak dibaca lagi, karena telah diganti pada saat sebelum membaca Al-Fatihah.
        Demikianlah pembelajaran tentang shalat sunnat tasbih dan cara mengerjakan shalat sunnat tasbih. Semoga dapat bermanfaat bagi Author sendiri dan bagi teman-teman sekaliannya. Wassalam wr wb!

Cara Mengerjakan Shalat Sunnat Tasbih

SEMBAHYANG SUNNAT QABLIYYAH DAN BA’DIYYAH

Sembahyang sunnat qabliyyah dan ba’diyyah adalah sembahyang sunnat yang mengiringi sembahyang fardhu baik sebelum ataupun sesudah.

Sembahyang sunnat qabliyyah adalah sembahyang yang mengiringi sembahyang fardhu yang dikerjakan sebelum sembahyang fardhu.

Sembahyang sunnat ba’diyyah adalah sembahyang yang mengiringi sembahyang fardhu yang dikerjakan sesudah sembahyang fardhu.

Maka sunnat muakkad (kuat) yang mengiringi sembahyang fardhu itu, ada sepuluh rakaat :
1.      Dua rakaat sebelum sembahyang subuh.
2.      Dua rakaat sebelum sembahyang dhuhur atau jum’at.
3.      Dua rakaat sesudah sembahyang dhuhur atau jum’at.
4.      Dua rakaat sesudah sembahyang maghrib.
5.      Dua rakaat sesudah sembahyang isya.

Dan selain daripada itu dinamakan sembahyang sunnat rawatib ziyadah atau ghairu muakkad, yaitu dua belas rakaat :
1.      Empat rakaat sebelum sembahyang ashar.
2.      Dua rakaat sebelum sembahyang dhuhur atau jum’at.
3.      Dua rakaat sesudah sembahyang dhuhur atau jum’at.
4.      Dua rakaat sebelum sembahyang maghrib.
5.      Dua rakaat sebelum sembahyang isya.


LAFADH NIAT CARA MENGERJAKANNYA

Maka sembahyang sunnat qabliyyah yang mengiringi sembahyang fardhu yang dikerjakan sebelum sembahyang fardhu, adalah :

Muakkad

1.      Dua rakaat sebelum sembahyang subuh.

اُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATASH-SHUBHI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum subuh, karena Allah taala. Allahu akbar.

2.      Dua rakaat sebelum sembahyang dhuhur atau jum’at.

اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ|جُمْعَةِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATADH-DHUHRI/JUM’ATI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum dhuhur/jum’at, karena Allah taala. Allahu akbar.

Ghairu Muakkad

1.      Dua rakaat sebelum sembahyang maghrib.

اُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATAL-MAGHRIBI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum mahgrib, karena Allah taala. Allahu akbar.

2.      Dua rakaat sebelum sembahyang isya.

اُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَآءِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATAL-‘ISYAAI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum isya, karena Allah taala. Allahu akbar.

3.      Dua rakaat sebelum sembahyang dhuhur atau jum’at.

اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ|جُمْعَةِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATADH-DHUHRI/JUM’ATI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum dhuhur/jum’at, karena Allah taala. Allahu akbar.

4.      Empat rakaat sebelum sembahyang ashar.

اُصَلِّى سُنَّةَ الْعَصْرِ رَكَعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى . اَللهُ اَكْبَرُ
USHALLII SUNNATAL-‘ASHRI RAK’ATAYNI QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALA. ALLAHU AKBAR.
Sengaja aku mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum ashar, karena Allah taala. Allahu akbar.

Cara Shalat Sunnat Qabliyyah dan Badiyyah

Subscribe Our Newsletter